Pahala Sholat Tahajud

Tentang sholat Tahajud, Allah SWT berseru, “Dan pada sebahagian malam hari sholat Tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu. Mudah-mudahan Tuhanmu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji.” (QS. al-Isra/17: 79). Berdasar ayat ini, pahala sholat tahajud adalah “Tuhanmu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji.”

Tentang “tempat yang terpuji” ini, Syekh Nawawi Banten dalam Tafsir Munir mengutip hadits Nabi SAW yang bersumber dari Abu Hurairah. Beliau bersabda, “Kedudukan yang terpuji adalah ketika aku diberi izin untuk memberi syafaat bagi umatku.” Artinya, orang yang shalat Tahajud, insya Allah kelak akan beroleh syafaat Nabi SAW.

Pendapat ini sejalan dengan yang diungkap oleh pengarang Tafsir Jalalain  bahwa makna “tempat yang terpuji” adalah sesungguhnya Nabi SAW diberikan kedudukan untuk memberi syafaat. Tak hanya itu, di akhirat kelak Nabi SAW juga dipuja-puji oleh semua manusia sejak masa terdahulu hingga masa yang paling akhir.

Secara tekstual, khitab atau sasaran perintah untuk melaksanakan tahajud berlaku khusus, yakni untuk Nabi SAW. Namun, seperti lazimnya dalam perintah Allah SWT yang lain, sholat Tahajud juga berlaku secara umum untuk seluruh kaum Muslim. Itu artinya, siapa pun yang melaksanakan sholat ini akan mendapatkan “tempat yang terpuji”.

Hanya saja bedanya, kalau Nabi SAW mendapat “tempat yang terpuji” dengan memberi syafaat kepada umatnya, sedangkan orang yang melaksanakan sholat Tahajud mendapat “tempat yang terpuji” dengan diberi syafaat oleh Nabi SAW. Secara bahasa syafaat berarti pertolongan. Nabi SAW kelak akan memberikan syafaat buat umatnya di akhirat.

Nabi SAW memiliki beragam syafaat untuk umatnya. Di dalam Qathrul Ghaits, Syaikh Nawawi Banten mengungkapnya secara terperinci. Misalnya, syafaat bagi orang yang seharusnya masuk neraka, lalu dikeluarkan dari sana. Ada juga syafaat untuk menambah kedudukan di surga. Seperti kita tahu bahwa surga tertinggi adalah Surga Firdaus.

Berikutnya adalah syafaat untuk satu kaum yang saleh yang ada kekurangan mereka dalam ketaatan lalu dimaafkan oleh Allah SWT. Ada juga syafaat untuk mengeluarkan orang bertauhid dari neraka. Syafaat ini tidak khusus diberikan oleh Nabi SAW namun termasuk juga diberikan oleh para nabi, malaikat, dan orang-orang beriman.

Selanjutnya adalah syafaat untuk meringankan siksa bagi orang yang seharusnya kekal di  neraka,  mereka hanya sebagian waktu saja di sana, seperti Abi Thalib. Berikutnya syafaat untuk memasukkan anak-anak orang musyrik ke surga. Inilah bukti ke-Maha-Adilan Allah SWT kepada makhluknya yang tidak mengetahui apa-apa.

Termasuk, ada lagi syafaat buat siapa saja yang meninggal di Madinah dan bersabar terhadap berbagai kesulitan di sana. Juga syafaat bagi yang menziarahi Nabi SAW sesudah beliau wafat. Selanjutnya ada lagi syafaat bagi yang hapal dan mengamalkan 40 hadits, seperti hadits “Arbain Nawawi” yang dikumpulkan Imam Nawawi,  tentang masalah agama.

Secara teoritis, orang yang konsisten melaksanakan sholat Tahajud, akan mendapatkan peluang mendapatkan salah satu syafaat yang telah disebutkan di atas. Kita butuh syafaat tersebut, sebab perbuatan baik yang kita lakukan tidak dapat “meloloskan” kita untuk masuk surga, kecuali kita mendapat syafaat untuk masuk surga dari Nabi SAW.

Surga adalah kenikmatan yang tidak pernah dilihat oleh mata. Tidak pernah didengar oleh telinga. Tidak pernah terdetak di dalam benak manuia. Surga dipersiapkan bagi orang yang menghidupkan malam, bagi orang yang mendapatkan “maqamam mahmudan” atau tempat yang terpuji. Tempat yang berlimpah syafaat. Aamiin

Baca juga Sholat Dhuha